14 FEBRUARI - CINTA UNTUK TANAH AIR

Administrator 13 Feb 2026 2k Share
img-berita

ALAP-ALAP DAIDAN KOTA BLITAR


 

    Hai sobat visit, kalau kalian berkunjung ke Blitar, rasanya kurang lengkap jika hanya menikmati keindahan Candi penataran atau berziarah ke makam Bung Karno. Kota ini punya sebutan yang keren lho, yaitu kota Patria, karena dikota inilah darah juang rakyat Indonesia pernah benar-benar mendidih melawan angkuhnya penjajah jepang. Bicara soal sejarah di Kota Blitar, ada salah satu tempat yang kaya akan sejarah. Namanya Monumen PETA. PETA sendiri merupakan kependekan dari frasa “Pembela Tanah Air”. Monumen ini terlertak di Jl. Sudanco Supriadi, Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Monumen PETA menyimpan banyak sejarah perjuangan para pemuda di Kota Blitar bersama dengan pemimpin mereka yang memiliki semangat juang yang tinggi. Tidak hanya itu tempat ini dulunya adalah Daidan PETA dimana para Shodancho (Komandan pleton) dididik. 

     Sebelum kita masuk ke pembahasan yang lebih dalam, pernah gak kalian membayangkan anak muda umur 20 tahun-an di era tahun 1945 lagi ngapain? Mereka nggak scrolling medsos ataupun bikin video tiktok, tapi mereka menyusun strategi untuk membuat Jepang ketar–ketir di Kota Blitar. Di saat sebagian dunia mengenal tanggal 14 Februari sebagai hari kasih sayang, rakyat Blitar mengenang 14 Februari 1945 sebagai hari keberanian yang meledak. Di bawah bayang-bayang Gunung Kelud, fajar merah menyingsing bukan karena matahari, melainkan karena kobaran semangat para serdadu PETA (Pembela Tanah Air). Mereka sudah muak melihat bangsanya diperas habis oleh bangsa Jepang.Pemicu terjadinya pemberotakan PETA adalah rasa iba dan amarah para prajurit, mereka nggak sampai hati melihat rakyat Blitar terus menerus menderita akibat kekejaman Romusha. Rakyat dipaksa buat kerja nonstop sampai kurus kering hingga mati kelaparan. Lalu, dengan seenaknya, hasil panen padinya dirampas oleh mereka yang menduduki kursi kekuasaan. Terlebih lagi, masih ada banyak bentuk diskriminasi dan kekejaman lain oleh instruktur militer Jepang terhadap anggota PETA dan rakyat Blitar. 

    Sehari sebelum gencatan senjata dimulai—tepatnya pada tanggal 13 Februari 1945 pukul delapan malam—rapat rahasia terakhir dilakukan di tempat yang sama, yaitu Asrama Daidan PETA Blitar. Ternyata, yang menghadiri kegiatan rahasia itu cukup banyak, dua puluh lima orang perwira dan bintara, dan dipimpin oleh Shodanco Muradi. Tokoh-tokoh penting seperti Shodanco Suparjono, Bundanco Sudarmo, dan Sigianco Sunanto juga terlibat dalam perencenaan aksi ini. Shodanco Supriyadi dan Bundanco Halir Mangkudijaya bertugas untuk memberikan penjelasan-penjelasan terkait strategi yang akan digunakan. (Anhar, 1982). Demi menjaga kerahasiaan dan keamanan rapat, Shodanco Sunaryo diperintahkan untuk mengeluarkan pasukannya yang bertugas khusus mengawasi kantor Kenpeitai. Sementara itu, Sigiancho Sunanto mendapat arahan untuk menempatkan pasukannya guna mengawasi rumah-rumah Sidokan dan orang-orang Jepang lainnya. Nah, dalam instruksi tersebut, manakala ada orang Jepang yang mencurigakan dan keluar sebelum pemberontakan meletus, mereka harus segera dilumpuhkan tanpa menimbulkan suara. (Ramadhan, 2021)

     Setelah kegiatan rapatnya resmi dibuka, Bundanco Halir Mangkudijaya memberikan sebuah penjelasan penting. Ia menyampaikan kalau tentara Jepang sudah tau mengenai rencana pemberontakan mereka, sehingga ada baiknya pemberontakan itu dicetuskan secepat mungkin. Pada tanggal 14 Februari 1945 pukul tiga dini hari, pasukan PETA melancarkan serangan dengan menembakkan mortar ke Hotel Sakura yang menjadi tempat tinggal para perwira militer Jepang. Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan pertemuan anggota dan komandan PETA di Blitar, dengan harapan menarik perhatian anggota-anggota lain untuk bergabung dalam perlawanan. Selain Hotel Sakura, Markas Kenpeitai dihujani tembakan senapan mesin. Pasukan PETA juga membawa banyak perlengkapan dan logistic persenjataan. (Anhar, 1982). Dalam mengatasi pemberontakan dan invasi dadakan tersebut, Jepang bertindak dengan sangat cepat. Hal tersebut membuat Soeprijadi gagal dalam menggerakkan kesatuan lain untuk bergabung. Selain itu, Jepang yang sudah mengetahui rencana pemberontakan, segera meninggalkan gedung-gedung tempat mereka tinggal. Mereka juga mengerahkan prajurit lokal untuk menghentikan pemberontakan, yang dimana merupakan sebuah strategi cerdik karena Soeprijadi hanya memerintahkan untuk membunuh prajurit Jepang saja. Langkah tersebut sudah cukup untuk menghambat Soeprijadi dan pengikutnya. (Anhar, 1982)

    Nyatanya, hasil akhir dari pemberontakan ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkan sebelumnya. Beberapa prajurit PETA yang terlibat dalam pemberontakan ini ditangkap dan diadili di Mahkamah Militer Jepang di Jakarta. Dari total 68 orang yang diadili, ada yang dihukum seumur hidup dan ada juga yang dihukum mati. Dr. Ismail, Muradi, Halir Mankudijoyo, Sunanto, dan Sudarmo adalah nama-nama yang dihukum mati (Nailufar, 2020). Yang bikin penasaran, setelah terjadinya peristiwa bersejarah itu, sosok pemimpin perlawanan Soeprijadi menghilang secara misterius, sampai sekarang kisahnya masih menjadi legenda yang menyelimuti Kota Blitar. Akhirnya setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Soeprijadi yang awalnya ingin diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Keamanan Rakyat digantikan oleh Imam Muhammad Suliyoadikusuma. Dengan adanya peristiwa ini, rakyat Indonesia makin sadar dan yakin jika kemerdekaan Indonesia itu nggak akan diberikan oleh Jepang secara cuma-cuma. 

   Jika kalian berkunjung ke Monumen PETA yang sekarang berubah nama menjadi Taman Plaza Monumen PETA, kalian akan disambut tujuh buah patung tentara PETA dalam posisi siap menyerang, di mana patung tersebut adalah Shodancho Supriyadi diletakkan tepat di tengah monument yang digambarkan sebagai sosok pemimpin pemberontakan PETA, keren bukan? Tak hanya itu, Pemerintah Kota Blitar Bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Blitar setiap tahunnya menggelar Event Daerah yaitu Drama Kolosal Perjuangan PETA untuk memperingati peristiwa perjuangan pemberontakan PETA pada tanggal 14 Februari 1945. Jadi, saat berkunjung ke Kota Blitar jangan lupa masukkan Event Drama Kolosal Perjuang PETA ke dalam wishlist ya sobat visit !

 

 

Referensi

Anhar, R. (1982). Supriyadi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ramadhan. (2021, Maret 4). 14 Februari 1945: Peristiwa Pemberontakan Tentara PETA. Retrieved from asumsi: https://asumsi.co/post/57699/14-februari-1945-peristiwa-pemberontakan-tentara-peta/                                                                                              

Berita Populer

Gedung Kesenian Kembali Dibuka Dengan Ka..

by Administrator | 06 Oct 2020

Dinding Pagar Gedung Kesenian Akan Dihia..

by Administrator | 06 Oct 2020

Camat Sukorejo Pantau Isolasi Mandiri Kel..

by Administrator | 06 Oct 2020

Pjs Wali Kota Blitar Minta Perkuat Sinerg..

by Administrator | 06 Oct 2020

Radio Mahardhika Kota Blitar Ikuti Webina..

by Administrator | 15 Jul 2020

Karantina Klaster BUMN di Sananwetan Ber..

by Administrator | 06 Oct 2020